Jakarta, Pelanginews
Rudal Iran menghantam pangkalan militer Amerika Serikat (AS) Prince Sultan di Arab Saudi pada hari Jumat, merusak beberapa pesawat pengisian bahan bakar, demikian dilaporkan The Wall Street Journal , mengutip pejabat Amerika dan Saudi dikutip dari The Jerusalem Post.
Menurut laporan tersebut, serangan yang juga melibatkan penggunaan drone ini dikonfirmasi menggunakan citra dan data sumber terbuka yang beredar secara online.
Sebuah laporan dari Reuters mengatakan bahwa 12 tentara terluka selama serangan itu, dua di antaranya dalam kondisi kritis, menurut seorang pejabat AS.
Dalam serangan sebelumnya terhadap pangkalan udara AS, lima pesawat pengisian bahan bakar mengalami kerusakan. Pentagon tidak berkomentar mengenai serangan terhadap pangkalan tersebut.
Cegat rudal balistik.
Sementara Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan pada hari Jumat bahwa sebuah rudal balistik yang menargetkan Riyadh, ibu kota Arab Saudi, telah dicegat dan dihancurkan di tengah penerbangan.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab juga mengeluarkan peringatan tentang rudal balistik dan drone yang sedang menuju ke negara tersebut.
Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa suara yang terdengar adalah hasil dari Sistem Pertahanan Udara yang mencegat rudal, dan pesawat tempur tersebut mencegat rudal jelajah dan UAV,” kata UEA dalam sebuah pernyataan.
UEA juga melaporkan dua kebakaran di Abu Dhabi akibat pecahan peluru yang jatuh setelah pencegatan rudal balistik, dan pihak berwenang meminta penduduk untuk menjauhi lokasi yang terkena dampak, seperti yang dilaporkan Reuters .
Bahrain juga mengalami serangan Iran pada hari Jumat, dengan Menteri Dalam Negeri Bahrain melaporkan bahwa sebuah fasilitas terbakar setelah terkena serangan rudal.
Hal ini terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan warga sipil untuk meninggalkan daerah-daerah tempat pasukan AS ditempatkan di seluruh wilayah Teluk, seperti yang dilaporkan oleh Kantor Berita Fars yang dikelola oleh IRGC.
Dalam peringatan tersebut, yang menyatakan bahwa pasukan AS berupaya menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia karena takut akan serangan Iran, IRGC mendesak semua warga sipil untuk menghindari daerah-daerah yang dikuasai pasukan AS sementara mereka menjalankan “tugas untuk melenyapkan pasukan teroris Amerika.” (ds)






