Teheran, Pelanginews
Iran akan mengambil langkah balasan jika fasilitas energi negara itu diserang, kata Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, Ahad, di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyatakan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, AS akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” kata Zolfaghari, seperti dikutip kantor berita Fars dikutip dari Antara.
Teheran kemungkinan akan menargetkan fasilitas energi Teluk di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil
Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta target militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “pencegahan” itu diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dipersepsikan dari program nuklir Iran, namun kemudian AS-Israel menegaskan bahwa mereka ingin menyaksikan terjadi perubahan kekuasaan di Iran.
Harga minyak melonjak pada hari Jumat (20/3/2026) dan menetap pada level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Irak menyatakan force majeure pada semua ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan asing. Sementara Israel menyerang ladang gas utama di Iran dan Teheran menanggapi dengan serangan terhadap negara-negara tetangganya, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait. (lm)






