Jakarta, Pelanginews
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth akan mengirim kapal induk kedua untuk mendampingi USS Harry S. Truman di kawasan Timur Tengah, menurut laporan Associated Press dan Politico, mengutip pejabat AS yang dilansir dari The Jerusalem Post
Kapal induk kedua yang dimaksud kabarnya adalah USS Carl Vinson , yang berpangkalan di Samudra Pasifik, kata laporan itu.
Associated Press mengutip pernyataan pejabat tersebut yang mengatakan bahwa menteri pertahanan memerintahkan USS Harry S. Truman untuk berada di Timur Tengah setidaknya selama satu bulan lagi, karena kapal itu awalnya dijadwalkan kembali ke Virginia pada akhir bulan ini. Laporan itu juga mengatakan bahwa Vinson diperkirakan akan tiba di wilayah tersebut bulan depan.
Keputusan Hegseth muncul saat serangan AS terhadap organisasi teroris Houthi di wilayah tersebut terus meningkat. Beberapa jam setelah laporan pers, Houthi menembakkan rudal balistik ke Israel tetapi dicegat oleh IAF sebelum memasuki wilayah Israel.
Rudal balistik tersebut menyebabkan sirene peringatan merah berbunyi di seluruh Israel , dari Yerusalem hingga pinggiran kota Tel Aviv.
Kapal Vinson yang bergerak untuk mendampingi USS Truman akan menjadi kedua kalinya dua kapal induk ditempatkan di Timur Tengah dalam setengah tahun terakhir, demikian catatan laporan tersebut. Sebelum bergerak menuju Timur Tengah, kapal itu melakukan latihan bersama pasukan Korea Selatan dan Jepang, menurut laporan
Houthi dan Iran
Hegseth mengatakan awal minggu ini, “Begitu Houthi berkata, ‘Kami akan berhenti menembaki kapal-kapal kalian [dan] kami akan berhenti menembaki pesawat tak berawak kalian,’ kampanye ini akan berakhir, tetapi hingga saat itu tiba, kampanye ini tidak akan pernah berhenti,” dan menambahkan bahwa serangan udara tersebut dimaksudkan untuk menarik perhatian Republik Islam Iran, menurut pembaruan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan AS pada hari Senin.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa Iran harus segera menghentikan pengiriman pasokan militer ke Houthi dan membiarkan kelompok Yaman itu “bertempur sendiri.”
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menanggapi dua hari kemudian bahwa Teheran tidak memiliki proksi di kawasan itu dan bahwa kelompok yang didukungnya bertindak secara independen. (ded)