Teheran, Pelanginews
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi mengomunikasikan proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri konfliknya dengan Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah menlu di Asia dan Eropa.
Dalam pembicaraan terpisah pada Jumat (1/5) dan Sabtu (2/5), Araghchi membahas perkembangan regional serta gencatan senjata dengan Washington bersama pejabat dari Turki, Qatar, Arab Saudi, Mesir, Irak, Azerbaijan, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Prancis, Italia, serta kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas.
Menlu Araghchi mengatakan “agresi militer” AS dan Israel menimbulkan kerawanan di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, sebut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Iran tidak memulai perang dan tetap terbuka untuk diplomasi jika AS menghentikan “pendekatan maksimalisnya,” ancamannya, dan tindakan provokatifnya, ungkap Araghchi.
Dia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran sepenuhnya siap membela negara dari ancaman apa pun.
Menlu Iran itu juga memuji peran “konstruktif” beberapa negara regional dalam mendorong diplomasi dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran, hingga menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan senior dan warga sipil Iran. Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, diikuti oleh perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad yang gagal menghasilkan kesepakatan.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Jumat melaporkan bahwa sehari sebelumnya, Iran telah mengirimkan proposal baru ke Pakistan terkait negosiasi dengan AS. (ant/bs)







